Hubungan kondisi geologi dengan daya dukung tanah untuk pertanian di Ekas

Musim tanam telah tiba, saat yang sangat menggembirakan bagi para petani adalah saat mereka bisa menggarap lahan pertanian mereka. Saat musim hujan seperti inilah saatnya. Masyarakat pun berbondong-bondong ke sawah dan ladang menanam padi dan jagung.

Perjalanan ke daerah Ekas di Selatan Pulau Lombok kemarin membawa cerita tersendiri bagi saya ketika melihat hamparan jagung yang menutupi perbukitan disepanjang jalan yang saya lalui. Bisa dibilang tidak ada tempat yang tidak ditanami jagung bahkan pekarangan rumah masyarakat pun ditanami tumbuhan tersebut. Tentunya pepohonan yang dulunya rimbun dan menyeramkan dibukit-bukit harus jadi korban (ditebang dan dibakar) untuk pembukaan ladang.

Terasa sekali dampaknya ketika harus melewati daerah lembah, jalan-jalan ditutupi lumpur hasil erosi dari bukit yang sudah beralih fungsi tersebut.

Penasaran dengan keadaan tersebut saya pun mengajak beberapa orang untuk berdiskusi terkait maraknya penanaman jagung didaerah tersebut. Mereka rata-rata menyampaikan hal yang sama yaitu hanya jagung yang bisa ditanam di lahan mereka. Saya sebenarnya tidak yakin apakah bukit-bukit yang ditanami tersebut termasuk lahan masyarakat itu sendiri.

Tanpa prolog yang panjang mari kita masuk ke topik bahasan utama kenapa masyarakat mengatakan hanya jagung yang bisa ditanam di lahan mereka.

Untuk itu saya ingin meninjau dari aspek geologi daerah Ekas sendiri untuk melihat hubungannya dengan daya dukung tanah untuk pertanian.

Teluk Ekas sebagian besar disusun oleh batu gamping, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama batu kapur. Dengan warna batuan putih agak kekuningan dan tanah relatif hitam dan lengket beserta licin. Seperti kebanyakan daerah gamping yang kita kenal seperti daerah Gunung Sewu dan Maros Pangkep biasanya daerah tersebut memiliki ekosistem tersendiri yang hanya tumbuhan tertentu bisa berkembang dengan baik seperti jati.

Kalau daerah Sekaroh ada yang unik karena sekarang daerah itu banyak ditanami groso dan sengon karena dua jenis tumbuhan itu bisa hidup dilingkungan minus. Selain itu, salah satu jenis tanaman musiman yang bisa tumbuh dalam kondisi minus tentunya adalah jagung jadi wajar saja seperti yang disampaikan oleh masyarakat Ekas tersebut.

Daerah batugamping selain kurang mendukung terhadap beberapa tanaman pertanian biasanya merupakan daerah minus air atau daerah dengan kondisi air kurang merata. Biasanya air akan terjebak dalam retakan batuan atau kalau sudah berkembang jadi karst air akan mengalir pada sungai-sungai bawah tanah sehingga butuh treatment khusus untuk mengelola airnya.

Dari sisi morfologi atau rupa bumi, daerah Ekas merupakan daerah perbukitan bergelombang dengan lahan pertanian yang cukup sempit sehingga sulit untuk ditanam padi yang membutuhkan lahan yang datar, luas dan tentunya butuh banyak air.

Jadi ada kaitannya loh kondisi geologi dengan daya dukung tanah untuk pertanian. Kita lihat saja bagian utara seperti lereng Rinjani sebagai perbandingan. Daerah utara sangat terkenal sebagai produsen buah-buahan dan kebutuhan pokok, hal ini tidak terlepas dari batuannya yang merupakan hasil Gunung api muda Rinjani sehingga sangat subur dan juga banyak air.

Disini kita melihat bahwa ada permasalahan dasar yang perlu dicarikan solusi yaitu pemenuhan kebutuhan hidup sehingga kondisi masyarakat yang sulit didaerah Ekas tidak memaksa mereka untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak baik untuk lingkungan dimana mereka tinggal.

Peningkatan laju erosi tanah sangat terlihat saat ini dimana endapan hasil erosi banyak terendapkan dijalan-jalan dan mengganggu transportasi disana. Yang mungkin belum dirasakan dan memang sulit dirasakan adalah berkurangnya intensitas air tanah karena memang daerah sana memang sudah minus air.

#belajargeologi #bangkus #kusnadi #iaginusra #Geoparkrinjanilombok #geoparktambora #apgn2019

(Visited 16 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *