Bantimala Komplek Bak Harta Karun Tersembunyi Geopark Maros Pangkep (Bantimala Complex the Hidden Treasure of Maros Pangkep Geopark)

Berbicara mengenai Geopark Maros Pangkep pikiran kita langsung tertuju pada indahnya kawasan karst yang apabila kita lihat dari kejauhan membentang bukit-bukit runcing yang menjulang tinggi membentuk menara-menara yang indah yang apabila kita hobi nonto film Cina berlatar belakang pedesaan, kita layaknya dibawa ke lokasi syuting film.

Tower-tower yang indah menjulang di kawasan karst Maros Pangkep (sumber. mongabay)

Apabila kita masuk lebih dekat, kita akan menemukan keindahan lain berupa gua-gua karst yang penuh dengan stalaktit, stalakmit dan tiang karst. Selain itu, kita akan menjumpai coretan-coretan dinding gowa yang didominasi oleh warna coklat tua dengan gambar beberapa jenis binatang. Dipercaya oleh para ahli arkeologi bahwa lukisan tersebut merupakan karya manusia pra-sejarah yang menghuni gua-gua itu pada zaman dahulu kala. Bagi penghobi capping atau susur gua tempat ini sungguh merupakan surga yang tiada duanya karena terdapat gua-gua yang sangat panjang dengan jalur yang cukup menantang dan tembus satu sama lainnya.

Apakah Geopark Maros Pangkep hanya tentang itu?

Ternyata tidak, menurut saya kawasan karst Maros Pangkep adalah sebuah hiasan yang indah dari taman bumi sebenarnya yang ada di Geopark Maros Pangkep. Apabila kita menelusuri lebih dalam dari kawasan geopark ini, kita akan menemukan sebuah lokasi yang memiliki keunikan geologi yang luar biasa. Lokasi tersebut disebut dengan nama Komplek Bantimala.

Lokasi tipe Kompleks Bantimala yang paling komplit sejarah dan jenis batuannya terdapat di Sungai Pateteyang, Desa Malaka, Kecamatan Tondong Tallasa, Kabupaten Pankajene Kepulauan.

Sungai Pateteyang dengan singkapan Rijang berlapis yang merupkan endapan dasar samudra dibagian tengah sungai (sumber : deskgram/@ekomiyadi)

Flash back ke tahun 2005/2006 ketika saya kesana field trip, untuk mencapai sungai ini karena belum ada jalan yang langsung ke lokasi ini kita harus menitipkan kendaraan di rumah masyarakat terdekat dan melakukan perjalan kaki sekitar 2 km melewati pematang sawah yang asri. Sungguh pengalaman yang sangat menarik melihat pemandangan sawah yang indah dan masyarakat suku Bugis bercocok tanam disawah mereka sambil sekali-kali menyapa kita yang lewat membuat perjalanan 2 kman tidak terasa melelahkan. Setelah mencapai bibir sungai kita akan melalui jalan setapak menurun ke lokasi singkapan sungai yang berjarak sekitar 300 meter didasar sungai.

Setelah sampai di lokasi, sekilas tidak ada sesuatu yang terlalu menarik disekitar lokasi karena yang terlihat hanya percabangan sungai dengan onggokan batu ditengah dan tebing sungai serta warna air sungai yang cenderung coklat sepanjang tahun.

Pandangan mengenai tempat ini mulai berubah ketika mendengar penjelasan dari dosen pembimbing yang membawa kami, kompleks Melange Bantimala merupakan sebuah bukti sejarah masa lalu pembentukan Pulau Sulawesi yang begitu kompleks. Bukti itu terpahat pada onggokan batuan yang kami injak dan lihat disepanjang sungai ini.

Sungai ini menjadi bukti adanya pertemuan antara lempeng Samudra dan lempeng Benua yang tersingkap didaratan. Proses tektonik yang dimulai sejak Zaman Trias Bawah (250 juta tahun yang lalu) ini memberikan cerita sejarah panjang tahap demi tahap tektonik yang terjadi di Pulau Sulawesi Bagian Barat mulai dari Proses Subduksi Lempeng Pasifik Bagian Barat dibawah Lempeng Eurasia Bagian Timur sampai proses pemisahan antara Pulau Kalimantan dengan Pulau Sulawesi bagian Barat serta proses magmatisme setalahnya.

Koleksi batuan secara alami juga bisa dibilang cukup lengkap disungai kecil ini, batuan dasar mélange yang merupakan hasil pencampuran dari tumbukan antar lempeng Samudra Pasifik Bagian Barat yang menunjam dibawah Lempeng Kontinen Eurasia Bagian Timur dapat kita jumpai disini. Disini juga, kita bisa menemukan berbagai macam jenis batuan mulai dari batuan dasar samudra seperti Rijang dan batuan ultramafik sampai batuan hasil rombakan dan metamorfisme batuan daratan seperti batupasir dan sekis.

Salah satu yang menurut saya unik dari tempat ini adalah adanya mineral garnet yang berwarna merah hati dengan ukuran yang besar dapat kita jumpai pada batuan sekis hijau atau biru, hal yang sulit dijumpai ditempat lain karena untuk membentuk garnet sebesar itu membutuhkan proses metamorfisme regional yang komplek. Semoga saja saat demam batu akik kemarin mineral ini tidak dijarah.

Jadi kalau mau merasakan sensasi menyentuh batuan dasar samudra tanpa harus menyelam kedalamnya datang saja ke Sungai Pateteyang dijamin terkesima, takjub dan bingung. Tapi ingat bawa pemandu orang geologi yang paham batuan ya..hehehe

Sumber : Sukamto, 1982 / Kaharuddin MS

#bangkus #wonderfulIndonesia

5/5

(Visited 170 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *