Mengklarifikasi Sebuah Klarifikasi tentang Isu Potensi Gempa Bumi Perairan Selatan Lombok

Beberapa hari yang lalu muncul klarifikasi dari pimpinan BMKG Mataram terkait pemberitaan disalah satu koran lokal. Uniknya, klarifikasi tersebut menjadi viral dan menjadi dasar dari beberapa orang untuk membuat status mengkaitkannya dengan informasi keliru tentang potensi gempa bumi sampai dengan M=9,5 SR di Selatan Pulau Lombok.

Jadi bingung bang kok judulnya mengklarifikasi sebuah klarifikasi ini bang?

Tidak juga karena sebenarnya saya hanya ingin mengomentari saja klarifikasi tersebut. Klarifikasi tersebut ternyata diinterpretasikan secara liar oleh banyak orang. Oleh karena itu, banyak sekali yang mempertanyakan kesaya terkait hal ini jadi saya merasa ingin juga memberikan komentar terkait klarifikasi tersebut.

Klarifikasi dari BMKG Mataram ini memang benar adanya. Ada 4 point (seperti dibawah) yang dijelaskan dalam klarifikasi tersebut dan saya ingin mengomentari 2 poin teratas dari klarifikasi tersebut.

Sumber : BMKG Mataram

Poin pertama BMKG membenarkan tentang potensi gempa bumi dan tsunami di Selatan dari Pulau Lombok.

Memang benar perairan Selatan Lombok menyimpan potensi energi gempa bumi besar yang telah dianalisis oleh beberapa ahli yang didasarkan pada beberapa parameter seperti panjang segmen sekitar 400 km, model pergerakan dan kecepatan pergeseran lempeng yang antara 7 s/d 10 cm pertahun menghasilkan nilai maksimal M=8,5 bukan seperti banyak informasi yang beredar selama ini potensi maksimalnya sampai M=9,5.

Segmen yang berpotensi terjadi gempa bumi besar sejatinya tidak berada didaratan tapi berada dilautan atau tengah-tengah Samudra Hindia dengan jarak daratan dengan zona megathrust tersebut lebih dari 250 km sesuai dengan gambar dibawah. Segmen tersebut membentang dari Barat ke Timur sepanjang kurang lebih 400 km dan berdasarkan model kontras bathimetrinya kemungkinan terbagi menjadi 2 subsegmen. Segmen inilah yang selama ini viral dikhawatirkan melepaskan energi terpendamnya menjadi gempa bumi besar.

Peta perkiraan segmen megathrust yang tergolong sebagai zona diam/silent zone di Selatan Lombok dan Bali serta gambaran jaraknya dari daratan Lombok.

Apa yang akan terjadi apabila terjadi gempa bumi dengan M=8,5 SR di segmen Selatan Lombok ini bang?

Ada 2 (dua) hal yang menjadi kekhawatiran dampak apabila terjadi gempa bumi besar tersebut yaitu kerusakan bangunan langsung dan tsunami.

Banyak yang memperdebatkan dampak langsung dari gempa bumi besar di selatan Lombok terhadap kerusakan bangunan. Ada yang berpendapat dampak gempa bumi akan semasif gempa bumi Lombok tahun 2018 dan ada pula yang berpendapat tidak akan berdampak besar. Saya lebih mendukung pendapat kedua bahwa dampaknya tidak akan terlalu besar hal ini saya dasarkan atas 2 hal yaitu pertama jarak sumber gempa bumi yang sangat jauh dari daratan mengakibatkan energi merusak gempa bumi akan berkurang dan cenderung lemah ketika mencapai daratan. Kedua sejarah gempa besar yang diakibatkan oleh zona subduksi dibagian Selatan seperti di Aceh, Pangandaran dan Lunyuk tidak mengakibatkan dampak langsung kerusakan yang besar terhadap bangunan.

Disisi lain, dampak yang sangat potensial dari gempa bumi yang perlu kita mitigasi adalah tsunami. Sejarah menggambarkan bagaimana gempa bumi besar seperti Lunyuk M=8,3 tahun 1977 menghasilkan tsunami sampai 15 meter , gempa bumi Aceh M=9,1 tahun 2004 menghasilkan tsunami sampai 30 meter dan gempa bumi Pangandaran M=7,7 tahun 2006 mengakibatkan tsunami yang gelombang mencapai 5 meter. Kejadian terdahulu dapat dijadikan sebagai referensi bagaimana dampak gempa bumi besar yang terjadi di perairan Selatan yang artinya memberikan gembaran juga mengenai potensi gelombang tsunami yang bisa terbentuk apabila terjadi gempa bumi dengan M=8,5 SR di zona diam perairan Selatan Bali-Lombok yaitu dengan potensi tinggi maksimal 20 meter yang telah pula diklarifikasikan oleh beberapa ahli.

Poin kedua dari klarifikasi tersebut adalah, potensi gempa bumi diperairan Selatan Lombok memang benar adanya, tapi tidak dapat diprediksi.

Kejadian gempa bumi layaknya ranting yang sudah mati dan kering yang masih menempel didahan pohon yang suatu saat ranting itu akan jatuh ke tanah tapi tidak ada yang tau pasti kapan ranting itu akan jatuh.

Banyak sekali saat ini orang yang sebenarnya tergolong awam tentang gempa bumi mengkait-kaitkan suatu kejadian atau fenomena alam bahkan tanggal tertentu dengan kejadian gempa bumi yang selanjutnya dishare dimedia sosial sehingga ramai diributkan masyarakat. Informasi seperti itu tidak perlu dipercaya karena sampai saat ini belum ada teknologi yang cukup mumpuni untuk memprediksi kejadian gempa bumi. Bahkan pola-pola atau peningkatan jumlah gempa bumi dengan magnitudo kecil disatu segmen pun belum tentu diikuti oleh gempa bumi besar.

Upaya mitigasi sebagai sebuah solusi.

Kita memang belum bisa memprediksi kejadian gempa bumi baik waktu, tempatnya yang pasti maupun besarannya tapi kita bisa melakukan tindakan-tindakan untuk mengurangi dampaknya. Kita harus belajar dari negara maju seperti Jepang yang juga memiliki sejarah panjang gempa bumi, mereka sudah sedikit sekali membahas tentang prediksi gempa bumi tapi lebih banyak membahas dan mengkaji tentang upaya masif dan terstruktur mitigasi gempa bumi. Mulai dari pengaturan tata ruang sampai konstruksi bangunan sangat sudah dikaji dan diawasi dengan ketat pelaksanaannya. Kita harus sudah memikirkan bagaimana bangunan sekolah dan bangunan umum lainnya memiliki standar mitigasi bencana yang baik melalui penerapan building code.

Semoga kedepan kita lebih sadar akan tempat kita berada sehingga segala keputusan dapat lebih mendukung upaya mitigasi bencana.

#bangkus

(Visited 3,972 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *