UDIN TAKUT BERWISATA KE PANTAI SELATAN KARENA ISU TSUNAMI MEGATHRUST

BangKus saya dulunya sangat senang jalan-jalan kepantai terutama ke pantai Kuta, Selong Belanak, dan Aan karena pasirnya putih dan lautnya biru dan jernih sejernih hatiku..hehehe

Tapi akhir -akhir ini saya merasa takut main-main ke pantai, khawatir pas disana terjadi gempa bumi besar dan tsunami. Bagaimana dong bang?

Memiliki rasa kekhwatiran normal-normal saja Din namanya juga manusia tapi kalau terlalu berlebihan juga tidak baik karena bisa berakibat buruk. Contohnya Kamu tidak bisa melakukan hobimu. Yang dijabarkan para ilmuan selama ini sifatnya hanya potensi saja dan belum tentu terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah upaya mitigasi tanpa takut sama sekali mengunjungi daerah-daerah yang berpotensi Tsunami tersebut.

Lagian, manusia itukan mahluk fana Din dan pasti akan mati jadi tidak usah terlalu mengkhwatirkan kejadian yang belum pasti terjadinya. Belum tentu bencana lah yang akan mengakhiri hidup kita, banyak orang yang meninggal tiba-tiba ketika sedang asik tidur atau sedang di kamar mandi. Bahkan menurut statistik lebih besar jumlah korban meninggal akibat kecelakaan kendaraan bermotor daripada bencana alam. Itu sedikit ceramah dari Ustadznya Din..hehehe

Jadi tidak ada sesuatu yang benar-benar aman di muka bumi ini Din. Kayak pesawat saja sebenarnya memiliki potensi untuk mengalami kecelakaan tapi karena sudah memiliki keamanan yang baik dari sisi perawatan  sampai safety saat penerbangan pun terlihat tinggi dimana pramugari melakukan demo mengenai cara penyelamatan dini terhadap kejadian-kejadian yang tidak diinginkan pada saat penerbangan seperti turbusensi tinggi, pesawat jatuh dan tindakan apabila pesawat mendarat darurat diair.

Terkait potensi bencana gempa bumi dan tsunami yang bisa terjadi kapan saja di jalur megathrust dari Selatan Jawa- Lombok memang kita perlu juga menerapkan standar safety terutama didaerah-daerah wisata seperti di pantai Selatan Lombok yang merupakan pantai favorit para traveler. Salah satunya melalui pemberian  pemahaman lebih dalam tentang upaya-upaya mitigasi melalui brosur atau himbauan ketiga wisatawan berada diareal wisata sehingga apabila traveler yang sedang berada di lokasi itu saat terjadi bencana bisa mengambil langkah-langkah yang tepat untuk penyelamatan dini. Kalaupun tidak, hal itu saya rasa bisa juga kita lakukan secara mandiri.

Nah ini, Apa saja yang harus dilakukan bang?

Ada beberapa langkah mitigasi yang bisa dilakukan oleh traveler saat berada didaerah berpotensi tsunami seperti di pantai Selatan yang langsung berhadapan dengan  jalur megathrust.

Yang pertama adalah belajar memahami peta, sebelum adanya android dulu saya sering melihat traveler luar negeri membawa kertas peta dijalan untuk menuju suatu tempat. Kalau sekarang sudah ada android jadi tidak perlu bawa peta dari kertas. Ini menunjukkan bahwa orang luar itu cenderung lebih paham manfaat peta daripada kita (bukan membandingkan..hehehe), makanya walaupun kita sekarang ramai-ramai mengkhawatirkan potensi tsunami mereka tetap saja ramai berenang di pantai Selatan.

Pemahaman akan peta itu penting Din karena tempat tinggal kita tersebar secara geografis bukan secara angka  sehingga informasi tentang kebencanaan baik itu bahaya, kerentanan maupun risiko lebih banyak tersaji dalam bentuk peta. Sebenarnya kita secara keseharian sudah terbiasa dengan peta apalagi kaum millineal sudah terbiasa dengan yang namanya google maps serta beberapa aplikasi yang sudah terhubung dengannya seperti Go-Jek, Grab dll sehingga secara dasar sebenarnya kita sudah memiliki pemahaman terhadap peta. Pemahaman akan peta akan mempermudah kita memahami potensi bencana yang sering dipaparkan oleh para ahli karena bencana itu akan berhubugan dengan wilayah yang berpotensi terdampak, dengan melihat peta kita bisa tau mana saja daerah yang bisa terdampak gempa bumi dan tsunami di zona megathrust sehingga kita tau mau kemana kalau ada sirine tsunami dibunyikan.

Kedua, Ketika kita sudah tau mana daerah di Pantai Selatan yang kira-kira bisa terdampak tsunami apabila terjadi dan mana daerah yang aman maka langkah selanjutnya adalah memahami metode untuk penyelamatan dini. Sekarang kita harus paham bagaimana kita menuju ke tempat-tempat yang aman tersebut. Biasanya instansi terkait seperti BPBD telah memasang rambu-rambu evakuasi dan titik kumpul dari potensi tsunami didaerah-daerah wisata sehingga kita bisa mengikuti jalur tersebut tapi kalaupun tidak ada rambu bagi kita yang sering menggunakan aplikasi-aplikasi yang saya sebutkan diatas, sudah terbiasa dengan konsep shortest path yaitu jalur terpendek menuju tujuan yang ingin kita tuju bisa mencari jalur-jalur yang cepat sehingga dalam waktu kurang dari 20 menit bisa mencapai daerah-daerah yang aman. Bentuk morfologi di Pantai Selatan yang berupa perselingan antara teluk kecil dan tanjung sehingga memberikan keuntungan tersendiri dalam sistem penyelamatan dini tsunami dimana tanjung-tanjung yang ada merupakan perbukitan yang rata-rata tingginya lebih dari 20 meter dari permukaan laut sehingga bisa menjadi titik kumpul ketika ada peringatan dini tsunami. Jarak dari pantai ke bukit juga tidak terlalu jauh sehingga bisa dicapai dengan jalan kaki.

Peta Potensi Landaan Tsunami pantai Selatan Lombok berdasarkan model iterasi model dari DEMNAS-BIG (BangKus)

Ketiga apabila terjadi bencana tsunami, pertimbangkan cara menuju ke daerah yang aman, apakah bisa dengan berjalan kaki atau harus menggunakan kendaraan bermotor. Contohnya apabila kita berada di Pantai Aan apabila terjadi tsunami masih bisa menyelamatkan diri dengan berjalan kaki menuju bukit Merese yang berada disebelah baratnya dan hanya berjarak kurang dari 100 meter begitu juga dengan Selong Belanak kita bisa menyusuri jalan menuju arah Utara dengan jarak 1 km sudah sampai titik aman. Biasanya yang menjadi masalah dalam penyelamatan dini tsunami adalah semua orang memiliki pemikiran yang sama saat evakuasi yaitu menggunakan kendaraan roda empat. Padahal dengan kapasitas jalan yang tidak memadai untuk langsung menampung seluruh pengguna roda empat membuat jalan malah macet dan malah lebih berpotensi untuk mengakibatkan bencana dimana kita tidak bisa sampai tepat waktu di lokasi aman atau setidaknya terjadi kecelakaan karena semua pengendara dalam kondisi panik. Dari itu maka kita perlu menimbang, apakah harus menggunakan kendaraan apabila jarak menuju lokasi evakuasi kurang dari satu kilometer dan kita sekeluarga dalam keadaan fit untuk jalan. Sebaiknya dalam kondisi seperti itu, masyarakat yang berkebutuhan khususlah yang diutamakan untuk menggunakan kendaraan bermotor seperti cacat, ibu hamil dan lansia sehingga tidak terjadi kasus seperti di Aceh tahun 2012 dan Mataram tahun 2018.

Salah satu contoh rambu tsunami

Tapi bang kita sering ragu-ragu daerah yang aman terhadap potensi landaan tsunami dibagian Selatan?

Itulah pentingnya diperjelas rambu-rambu atau arah evakuasi dan titik kumpul yang aman sehingga traveler tidak perlu terlalu berasumsi saat terjadi tsunami yang kondisinyas  serba panik. Mulai saat ini pembangunan di bagian Selatan Lombok sudah harus memiliki konsep wisata ramah bencana dengan melakukan penataan ruang yang mempermudah upaya penyelamatan dini terhadap potensi bencana tsunami contohnya jalan dibuat lebar, disepanjang bukit yang bisa dijadikan titik aman landaan tsunami dibuatkan jalur berupa tangga atau papan penunjuk arah ke arah punggung bukit tersebut, kayak di Jepang itu lo Din.

Model Penataan Ruang Pesisir Ramah Tsunami

Ya saya kan belum pernah ke Jepang Bang, mana tau mereka membuat jalur-jalur pedestrian menuju puncak bukit.

Sama Din sama saya juga lihatnya dari presentasi di seminar Profesor dari Jepang dulu, kalau kesana belum pernah juga. Hehehe. Semoga kita dapat kesempatan ya Din. Aamin 3x Bang…

SALAM TANGGUH!!!

#BudayaSadarBencana
#KenaliBahaya
#SiapkanStrategi
#SiapUntukSelamat
#KitaJagaAlam
#AlamJagaKita

http://www.bnpb.go.id

(Visited 653 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *