Gempa Bumi-Tsunami Mirip Pencuri, Biasanya Datang Saat Kita Lengah

Bang saya kan tinggal dekat pantai jadi beberapa hari ini karena keluarga saya takut tidur dirumah, jadinya setiap malam kami harus mengungsi ditenda karena khawatir lagi asik-asik tidur terjadi gempa besar dan tsunami.

Mohon pencerahannya bang apa kami harus seperti ini terus, tapi kalau begini terus kami juga menderita maklum suhu diluar sangat dingin saat malam hari.

Pantesan kamu kayak meriang setiap pagi Din, ternyata kamu setiap hari tidur ditenda. Hehehe

Satu hal yang harus kita mengerti dengan sangat Din kalau gempa bumi itu terjadi dengan tiba-tiba dan tanpa peringatan. Kita tidak tau kapan pastinya akan terjadi bisa besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau malah seratus tahun kedepan. Apakah kamu akan terus tidur diluar rumah seumur hidup karena takut kejadian gempa bumi dan tsunami? Kan rugi sudah bangun rumah mahal-mahal terus tidak ditinggali.

Ya juga sih bang tapi mau bagaimana lagi keluarga saya pada takut tidur di dalam rumah.

Kamu harus berusaha memberikan pemahaman kepada mereka Din kalau sesuatu yang sifatnya tidak pasti itu harus dihapapi dengan hal-hal yang pasti bukan malah lari. Saya beri contoh ketika kita kecil tidak ada yang tau bagaimana masa depan kita nantinya tapi kita semua pasti berkeingin untuk mendapatkan masa depan yang cerah dan untuk mendapatkannya kita harus melakukan hal-hal yang pasti seperti belajar yang rajin dan sekolah setinggi-tingginya. Memang ada sih yang anomaly orang yang sekolahnya rendah bisa sukses tapi hanya sedikit presentasinya dibandingkan dengan orang yang benar-benar berusaha dari kecil. Biasanya juga orang yang kurang berprestasi disekolah diluar mereka berusaha melakukan hal besar sehingga berhasil.

Jadi yang harus dilakukan untuk mengurangi ketakutan adalah melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapinya. Melakukan pengungsian setiap malam bukanlah solusi yang tepat karena bisa berdampak buruk pada kesehatan kita dan dititik tertentu kita akan merasa jenuh dan tidak perduli lagi. Ketika kita tidak perduli itulah kadang bencana itu datang.  

Kejadian bencana itu saya ibaratkan seperti pencuri Din, pencuri tidak akan datang ke suatu kampung atau rumah apabila setiap malam masyarakat melakukan ronda disekitar lingkungan kampung tersebut tapi ketika masyarakat sudah lama melakukan ronda dan tidak terjadi apa-apa biasanya mereka akan merasa jenuh untuk melakukan ronda lagi sehingga ketika tidak ada orang yang ronda disitulah pencuri beraksi. Mungkin kita bisa seminggu, dua minggu, satu bulan bahkan setahun tidur didalam tenda pada malam hari tapi lebih dari itu kita akan merasa jenuh dan kembali ke rumah kita bahkan setelah itu kita akan merasa sangat bosan melakukan upaya-upaya mitigasi sehingga kita lupa ada potensi bencana bisa tiba-tiba datang ketika kita dalam keadaan tidak ada persiapan.

Benar juga ya Bang, terus bagaimana cara melakukan persiapan-persiapan menghadapi potensi bencana itu bang?

Menghadapi sesuatu yang besar harus memiliki persiapan yang bersifat menerus Din, kayak saya bilang tadi untuk mendapatkan masa depan yang baik orang harus persiapan dari TK sampai Professor. Lakukan tahap-tahap mitigasi seperti yang disarankan oleh para ahli mulai dari pahami potensi bencana yang ada lingkungan kita melalui informasi dari para ahli yang kompeten, selanjutnya lakukan tindakan yang disarankan untuk menghindari potensi dampak bencana seperti menata rumah tahan gempa agar tidak ambruk saat gempa bumi, mempersiapkan perlengkapan P3K yang sewaktu-waktu darurat dapat segera dimanfaatkan, melakukan simulasi mandiri penyelamatan dini tsunami sehingga ketika terjadi tsunami sudah tau mau lari kemana dan membangun kearifan keluarga dalam pengurangan risiko bencana dimana seluruh anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama dalam menghadapi kejadian bencana baik saat terjadi maupun setelah terjadi bencana. Semua hal tersebut harus bersifat menerus sehingga terbangun kesadaran dari dalam diri terkait segala tindakan yang harus dilakukan saat terjadi bencana.

Satu hal yang paling penting dan utama adalah memperbanyak do’a karena hanya do’a yang bisa menghentikan kejadian bencana. Jadi harus seimbang antara ikhtiar dan penyerahan diri kepada Tuhan. Saya jadi teringat hadist tentang ini Din.

Seseorang berkata kepada Nabi ShollAllahu ‘alaihi wa sallam“Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?” Nabi bersabda, “Ikatlah kemudian bertawakkallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al Albani dalam Shohih Jami’ush Shoghir).

Jadi pesan BangKus marilah kita berusaha melakukan pengurangi risiko bencana dengan tidak lupa berserah kepada Tuhan.

SALAM TANGGUH!!!

#tangguhawards2019
#BudayaSadarBencana
#KenaliBahaya
#SiapkanStrategi
#SiapUntukSelamat
#KitaJagaAlam
#AlamJagaKita
http://www.bnpb.go.id

BangKus / Geoscientist/Bureaucrat/blogger/YouTuber
http://bangkusnadi.com/2019/07/24/udin-takut-berwisata-ke-pantai-selatan-karena-isu-tsunami-megathrust/

(Visited 867 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *