Gunung api Slamet Naik Status Jadi Waspada, Ayo Kenali Potensi Dampaknya

Gunungapi Slamet merupakan gunungapi yang terletak di 5 Kabupaten yaitu Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga Jawa Tengah. Gunungapi ini merupakan gunungapi tertinggi kedua setelah Semeru dengan ketinggian 3.428 mdpl atau kalah 248 meter. Karena ketinggiannya itulah mengakibatkan gunung Slamet menjadi salah satu favorit pendakian di Pulau Jawa.

Peningkatan Status Gunung api

Tepat pada tanggal 9 Agustus 2019 Pukul 09.00 WIB Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Bandung menaikkan status Gunung Slamet dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada). Kenaikan status diakibatkan oleh adanya peningkatan aktivitas kegempaan tremor dan juga terjadi deformasi atau penggelembungan di puncak kawah.

Grafik peningkatan kegempaan gunung SLamet dari bulan Mei sampai Agustus 2019 menunjukkan peningkatan jumlah gempa hembusan dan sedikit peningkatan tremor.

Hal ini berdampak tentunya pada pendakian karena masyarakat maupun pengunjung tidak diperbolehkan mendekati radius 2 km dari puncak kawah gunungapi sehingga aktivitas pendakian ke gunung Slamet harus dihentikan sampai terjadi penurunan aktivitas. Kawasan pemukiman maupun perkebunan serta pertanian masyarakat sendiri tidak termasuk dalam radius 2 km dari puncak gunung sehingga kenaikan status tidak berdampak pada pengungsian atau pembatasan aktivitas masyarakat disawah dan ladang. Pemukiman terdekat berada dibagian Timur gunung masuk dalam wilayah Tegal dan Banyumas berjarak 5 km dari puncak gunung.

Potensi bahaya gunungapi Slamet akibat peningkatan status ke Level II atau Waspada adalah radius 2 km dari puncak. Pemungkiman penduduk bisa dibilang aman dari potensi ini karena pemukinan terdekat berada di radius 5 km dari puncak.

Waduh tidak jadi dong udin mendaki gunung Slamet 17 Agustus ini Bang…

Ya kan masih banyak gunung-gunung yang lain yang bisa didaki Din. hehehe

Potensi Dampak Letusan

Gunung Slamet merupakan jenis Gunung api Strato atau gunungapi kerucut yang tersusun oleh perselingan material hasil letusan berupa lava, tepra, dan abu. Biasanya gunungapi tipe ini memiliki potensi dampak letusan rendah sampai menengah.

Berdasarkan informasi dari situs resmi PVMBG , gunungapi ini merupakan gunungapi yang sangat aktif memuntahkan abu vulkanik dan lava, tercatat periode letusan abu vulkanik dari gunungapi ini berselang sekitar satu sampai 5 tahun sekali dari tahun 1825 dengan durasi letusan paling lama 1 sampai 3 minggu. Belum ada catatan letusan yang dahsyat yang diakibatkan oleh peningkatan aktivitas gunungapi ini sejak tahun 1772.

Berdasarkan peta KRB yang dikeluarkan oleh PVMBG potensi maksimal lontaran batu pijar dari letusan gunungapi Slamet adalah radius 4 kilometer dari puncak sedangkan awan panas, aliran lava dan gas beracun bisa mencapai radius 7 km tergantung morfologi lereng dimana daerah terjauh yang bisa dijangkau adalah daerah wisata Guci dibagian Barat Laut gunung. Sedangkan, abu vulkanik bisa berdampak luas tergantung tinggi kolom abu dan arah angin.

Untuk potensi bencana dan daerah mana saja yang berpotensi terdampak bencana bisa dilihat di Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Slamet dibawah.

http://bit.ly/PetaKRBGunungSlamet

BangKus
Youtube : Cerita Geologi BangKus
FB : Bang Kus
IG : Kusnadi.Geo

(Visited 77 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *