Menggaungkan Kembali Arti Penting Warisan Geologi Melalui Simposium APGN 2019

Kegiatan simposium Asia Pacific Geopark Network (APGN) merupakan sebuah pertemuan ilmiah 2 tahun sekali yang diadakan disalah satu anggota Geopark UNESCO di kawasan Asia Pasifik. Tahun ini merupakan kali 6 diadakannya symposium APGN dan UNESCO Global Geopark Rinjani-Lombok mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah pelaksaan kegiatan ini. Sebagai sebuah seminar yang bertaraf international, event ini merupakan sebuah pekerjaan yang besar bagi Pemerintah Provinsi NTB yang mendapat dukung Pemerintah Pusat. Layaknya kegiatan seminar International lainnya, kegiatan ini tentunya akan mendatangkan  para ahli dan praktisi di bidang Geopark dari berbagai negara. APGN ke-6 di Lombok ini sendiri sudah terdaftar akan dihadiri oleh perwakilan 26 negara diluar anggota konsil UNESCO yanga akan melakukan rapat di Lombok, dengan total peserta lebih dari 500 orang.

Khusus bagi pulau Lombok, kegiatan symposium ini memiliki arti penting dalam menumbuhkan kepercayaan pihak asing akan situasi Lombok pasca gempa bumi dahsyat tahun 2018. Pemprov NTB berharap dengan suksesnya acara ini, akan kembali memulihkan kunjungan wisata ke pulau ini seperti sebelum kejadian gempa, mengingat salah satu tulang punggung perekonomi masyarakat Lombok adalah sektor pariwisata.

Melalui kegiatan ini juga masyakat diharapkan dapat memahami arti penting dari warisan geologi yang ada di Indonesia. Berkaca dari jumlah geopark Nasional dan International di Indonesia, ada puluhan warisan geologi yang tersebar di Indonesia mulai dari pulau Sumatera sampai Papua seperti Geopark Toba-Sumatera Utara, Geopark Merangin-Jambi, Geopark Belitung, Geopark Ciletuh, Geopark Gunung Sewu, Geopark Batur, Geopark Rinjani-Lombok dan Geopark Raja Ampat-Papua dan masih banyak lainnya.

Menyinggung tentang warisan geologi, mungkin kata ini masih aneh ditelinga masyarakat karena selama ini yang umum didengar adalah warisan orang tua dan warisan budaya. Kata warisan sendiri memiliki makna sebagai sesuatu yang bernilai tinggi dan penting sedangkan geologi merupakan ilmu tentang bumi yang menyangkut proses, sejarah dan produknya sehingga warisan geologi dapat diartikan sebagai hasil proses geologi yang bernilai tinggi. Tentunya, keberadaan geopark memiliki peranan penting dalam mewadahi perlindungan dan pemanfaatan secara berkelanjutan dari warisan geologi ini.

Geopark Rinjani-Lombok sebagai tuan rumah kegiatan symposium APGN memiliki warisan geologi yang selama ini belum banyak diketahui bahkan oleh masyarakat Lombok sendiri. Bentuk rupa bumi dan perlapisan batuan yang menutupi lebih dari setengah daratan Lombok merupakan produk letusan terdahsyat didunia pada kala Holosen/modern yang terjadi pada abad ke-13 atau tahun 1257. Letusan tersebut bahkan lebih dahsyat dari letusan Tambora tahun 1815. Letusan tersebut saat ini terkenal dengan letusan Samalas yang tercatat pada Babad Lombok dan dipublikasiana oleh Lavigne dkk tahun 2013. Kejadian tersebut selain tercatat di Babad Lombok juga terekam dalam naskah-naskah kuno di negara-negara Eropa dan Inggris mengenai kejadian musim dingin berkepanjangan, kelaparan dan wabah penyakit satu tahun setelah kejadian letusan Samalas yaitu tahun 1258.

Dengan mengetahui sejarah geologi penting ini, tentunya kita dapat lebih bijak memperlakukan situs-situs penting geologi di Indonesia secara umum dan di Lombok secara khusus. Akhir kata, semoga setiap usaha penting yang kita lakukan dapat menjadi wahana perbaikan ekonomi masyarakat dan lingkungan di Indonesia.

@bangkus

(Visited 35 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *