Merawat Kesadaran Akan Upaya Mitigasi Bencana

Dunia tiba-tiba terperanjak ketika pagi hari tanggal 26 Desember 2004 terjadi sebuah gempa bumi besar M 9,2 berujung tsunami dengan gelombang 30 meter yang tidak pernah disangka-sangka dan diharapkan sebelumnya di Nangro Aceh Darussalam. Sebuah negeri yang saat itu sedang dalam keadaan konflik demi melepaskan diri dari Indonesia.

Pemerintah yang baru saja terpilih saat itu seakan gamang menghadapi besarnya jumlah korban jiwa dan harta benda. Terlebih lagi, kejadian bencana yang begitu dahsyat tersebut belum ada prosedur tetap penanganannya apalagi belum ada lembaga khusus yang menangani kebencanaan di Indonesia saat itu.

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pun berjalan sangat lambat di Aceh saat itu, walaupun bantuan yang datang bak air bah tapi tidak dapat dikontrol, terlebih lagi masyarakat yang sebelumnya berada dalam kondisi konflik cenderung kurang percaya dan kurang peduli satu sama lain.

Keluarnya aturan khusus tentang penanggulangan bencana

Belajar dari kenyataan pahit tersebut, pemerintah mulai merancang peraturan khusus tentang penanganan bencana sehingga pada tahun 2007 dengan dikeluarkannya Undang-Undang No 24 tentang Penanggulangan Bencana. UU ini menginisiasi terbentuknya badan khusus yang menangani kebencanaan bernama BNPB di tingkat pusat dan BPBD di tingkat daerah.

Layaknya penyakit dimana tindakan pencegahan lebih baik daripada pengobatan, UU ini pulalah yang menginisiasi pengarus utamaan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan diatas upaya penanganan saat terjadi bencana.

Bertahun-tahun setelah keluarnya aturan ini, ternyata pengaplikasiannya dilapangan belum terlalu maksimal sehingga pada tahun 2018 rangkaian bencana di Indonesia seperti Gempa Lombok, Gempa Palu dan Tsunami Selat Sunda masih saja mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda.

Ternyata selama ini semangat pemerintah yang menggebu-gebu dalam usaha pengurangan risiko bencana tidak didukung oleh keinginan kuat oleh masyarakat sehingga setiap kegiatan seperti sosialisasi, simulasi dll hanyalah menjadi rutinitas yang kurang memberi dampak bagi masyarakat.

Terlebih lagi sistem penganggaran kita saat ini lebih mengutamakan aksi saat dan setelah kejadian bencana atau disebut fase tanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksi. Kegiatan mitigasi menjadi kegiatan yang kurang populer sehingga mendapatkan porsi pendanaan minimum. Belum lagi pelibatan dunia pendidikan lebih sering menjadi wacana saat terjadi bencana besar dan akan menguap seiring dengan berhentinya bencana.

Karakteristik bencana…

Sebagian besar bencana bukanlah sebuah kejadian yang terjadi setiap hari tapi, merupakan sebuah siklus yang panjang. Walaupun sebagian jenis bencana ada yang terjadi dalam siklus yang relatif pendek seperti banjir besar di Jakarta yang sering terjadi dalam 5 tahun sekali, toh masyarakat tetap saja tidak belajar dan masih saja dengan kebiasaan sehari-harinya tinggal dipemukiman kumuh bantaran sungai dan membuang sampah disungai. Bencana besar seperti gempa bumi dilain sisi, memiliki siklus yang sangat panjang mulai dari 60 tahun seperti gempa Jogjakarta sampai lebih dari 500 tahunan untuk gempa di palung Jawa tentunya akan membuat masyarakat lupa akan potensi ancamannya dimasa kedepan.

Butuh tindakan yang berkelanjutan dalam upaya mitigasi

Disinilah pentingnya kita merawat kesadaran akan upaya mitigasi bencana yang kejadiannya tidak rutin setiap tahun sehingga walaupun bukan kita yang merasakan setidaknya anak cucu kita sudah tertanam disanubari mereka akan pentingnya hal tersebut. Tentunya kita tidak berharap kejadian itu akan terjadi didiri kita maupun anak cucu kita tapi, kita juga tidak bisa menampik kalau kita berada didaerah yang memiliki potensi bencana yang tinggi sebagai bagian dari ring of fire.

Mitigasi harus digalakan mulai dari level terkecil yaitu rumah tangga sampai level tertinggi yaitu pemerintah pusat.

Mari para guru yang kemarin merasakan dahsyatnya gempa Lombok, Palu dan bahkan Aceh tahun 2004 untuk kita tularkan pentingnya upaya mitigasi ke anak-anak didik kita. Banyak buku, flayer dan video unik dan lucu yang bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi siswa dalam upaya ini.

Salah satu bentuk kegiatan simulasi bencana di sekolah

Dimedia cetak maupun elektronik seperti koran dan TV bisa dibuat rubrik mingguan khusus tentang mitigasi sehingga menjadi salah satu wahana pembelajaran bagi para pembaca.

Kita tinggal dibumi yang memiliki dua sisi manfaat maupun mudarat, semoga kita tetap bisa hidup harmonis dengan alam.

#bangkus

(Visited 59 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *