Tentang Bang Kus

Bang Kusnadi lahir pada hari Selasa, tanggal 16 Juli Tahun 1985 di sebuah Dusun kecil yang berada ditengah-tengah pulau Lombok bernama Dusun Bangket Tengak, Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok. Lahir dari orang tua (H. Selamat Rohendi dan Hj. Nurjanah) yang merupakan suku Sasak Asli dan berlatar belakang guru dan petani. Dikampung inilah bang kus tumbuh sebagai anak kampung yang ceria.

Menempuh pendidikan SD di kampung halaman yaitu SDN Waker tahun 1991 yang berjarak hanya 500 meter dari rumah, bang kus kecil terbiasa kesekolah sendiri hanya dengan berjalan kaki. Kehidupan kecil dikampung yang sesuai dengan nama Dusunnya yaitu Bangket Tengak yang dalam bahasa Indonesia berarti tengah sawah sangat familiar dengan kehidupan anak petani dan permainan anak kampung yang sangat ceria tanpa memperdulikan mainan mahal dan mewah.

Kehidupan SMP Bang Kus sedikit lebih modern karena dapat bersekolah di sekolah paling favorit di ibu kota Kabupaten Lombok Tenggah yaitu SMPN 1 Praya pada tahun 1997. Sebagai orang kampung yang tergolong udik, bergaul dengan teman baru dengan gaya pembawaan yang lebih stylist dan gaul membuat bang kus SMP sulit untuk menyesuaikan diri dan cenderung terkucilkan dalam pergaulan sehingga sangat berdampak pada kemampuan mengikuti pelajaran sekolah. Hasilnya, setiap pembagian raport selalu saja ada warna bolpoin merah membara dinilai. Sering terpikir keinginan untuk berhenti sekolah saking tertekannya batin. Mungkin dulu guru BP tidak sesigap sekarang dalam melihat permasalahan siswa. Tapi, live must go on, setelah kelas 3 bang kus berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk memperbaiki ketertinggalan terutama dalam pelajaran sehingga saat lulus SMP bisa mendapatkan nilai yang cukup untuk masuk di SMA favorit yaitu SMAN 1 Praya di Kota yang sama pada tahun 2000.

Saat SMA keadaan sudah lebih baik walaupun dalam sisi pergaulan dan prestasi bang kus bukanlah orang yang menonjol atau bisa dibilang level sedang, tidak ada tekanan batin yang terlalu seperti saat SMP. Kehidupan SMA bisa dibilang cukup datar, tidak ada kisah prestasi yang mencolok, tidak ada pula kisah romantisme SMA ala Dilan yang begitu mengharu biru.

Perjalanan hidup berlanjut ke masa pencarian tujuan hidup di dunia kampus. Sebagai lulusan IPA tentunya sebagian besar kami mengharapkan bisa masuk di fakultas paling diminati yaitu Fakultas Kedokteran tapi sayang prestasi yang tidak terlalu mencolok di SMA membuat sulit bersaing memperebutkan impian. Akhirnya nasib melabuhkan bang kus di pilihan terakhir yaitu Jurusan Teknik Geologi di Universitas Hasanuddin Makassar yang dulu terkenal dengan nama Ujung Pandang tahun 2003. Pada awalnya bang kus sendiri tidak paham jurusan apa yang diambil (maklum iseng-iseng saja milih) dan kenapa harus sampai Ujung Pandang yang baru dengar namanya saja kok jauh sekali.

Tahun pertama kuliah sungguh begitu struggle di Unhas mulai dari penyesuaian diri dari anak mami yang belum pernah sama sekali meninggalkan kampung halaman sampai dengan ospek kampus yang sangat berat serta jadwal perkuliahan dan praktikum yang sangat padat. Disitulah Bang Kus benar-benar merasa tertipu oleh film atau sinetron tentang kampus biru, kuning atau ungu yang pernah ditonton semasa SMA yang mengisahkan tentang asiknya dunia perkuliahan dimana mahasiswa bisa menggunakan pakai bebas, gondrong, banyak kongko-kongko dan pacaran. Memang benar bisa memakai pakaian bebas dan gondrong tapi boro-boro mikirin kongko-kongko atau pacaran, pakaian yang sudah direndam dibak cuci pun kadang-kadang harus dibuang karena kelupaan sudah seminggu tidak dicuci dan berbelatung.

Jadi mahasiswa teknik geologi sungguh struggle lah pokoknya mulai dari kuliah yang banyak, praktikum setiap hari dan setiap akhir kuliah ada praktikum lapangan. Pokoknya bikin sangat mengikuti Sunnah Rasul SAW hanya tidur 4 jam setiap hari, mulai dari jam 1 sampai jam 5 subuh. Tapi bukan untuk ibadah sholat tapi kerjain laporan praktikum dan tugas kuliah.

Mana saat itu ngerjain laporan praktikum tidak boleh pakai komputer atau laptop untuk menghindari copy-paste jadi harus pakai mesin ketik. Untung dulu pas SMP satu-satunya pelajaran yang benar-benar dikuasai adalah muatan lokal mengetik 10 jari pakai mesin ketik jadinya pas kuliah harus pakai mesin ketik bisa lancar. Sampai tetangga kamar asrama selalu bilang ke saya suara mesin ketiknya bang kus bagaikan alunan musik yang memenyah kesunyian ditengah malam..hehehe

Setelah perjuangan cukup panjang akhirnya tahun 2008 bang kus bisa mendapatkan gelar sarjana teknik. Bukannya selesai perjuangan karena bahagianya sarjana hanya satu minggu setelah wisuda. Menjadi sarjana ternyata juga memiliki beban tersendiri, mulai dari bingung harus menentukan dan mencari pekerjaan sampai tidak enak sama orang tua harus minta uang jajan padahal sudah sarjana. Pokoknya ngebatin dah, yang lama nganggur pasti pahamlah dilema ini..hehe

Sebagai seorang geolog cita-cita pekerjaan tertinggi adalah kerja di perusahaan migas dengan gaji bisa sampai 8 digit tapi untuk kerja diperusahaan migas bukan hal yang mudah karena persaingan begitu ketat. Pernah coba satu kali bersaing di perusahaan BUMN tapi gagal diseleksi awal. Belum ada kejelasan pekerjaan orang tua akhirnya meminta untuk mendaftar CPNS pada akhir tahun 2018 dan akhirnya lulus. Sebagai anak yang baik ya harus nurut selama yang diminta adalah sesuatu yang baik dan tidak melanggar aturan agama kata Pak Ustadz. Sebenarnya belum ikhlas sih mau jadi PNS waktu awal-awal karena masih penasaran dengan cita-cita.

Tanpa belarut-larut dengan cita-cita yang tidak jadi, lanjut ke impian selanjutnya membina keluarga yang sakinah-mawadah dan warohmah. Begitu diterima kerja sebagai CPNS bang kus langsung membuat proposal permohonan menikah kepada orang tua yang akhirnya disetujui. Bukannya langsung senang malah bingung karena ternyata belum ada calon istri. Akhirnya bang kus bergerak cepat menghubungi teman dan kerabat sekiranya ada yang bisa diperkenalkan sebagai calon istri. Dalam 3 bulan terhitung lebih dari 5 calon yang ditemui dan belum mendapatkan kecocokan hingga sampai pada tahap hampir menyerah paman saya memberikan informasi akan adanya seorang bidadari yang cantik plus suaranya merdu sebagai qoriah di Lingkungan Tanggak, Praya. Sri Mulfaini namanya gadis cantik itu. Khawatir disambar orang bang kus langsung meluncur ke TKP tapi sayang calon pujaan hati masih di pulau Sumbawa. Satu minggu setelahnya baru ketemu dan langsung cinta pada pandangan pertama dan Alhamdullilah cintanya berbalas. Proses pun tidak menunggu lama hanya dalam 1,5 bulan akad nikahpun dilangsungkan pada tanggal 16 Juli 2009 dan alhamdullilah sampai 2019 sudah berbuah 4 orang anak ( Aisyah Salsabila Azzahra, Naura Ainaya Yusra, Uwais Al Kusnadi dan Afiya Sahla Salsabila).

Back to job, Sejak pertama masuk kerja di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi NTB yang dulu namanya adalah Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB bang kus ditempatkan di Seksi Mitigasi Bencana Alam Geologi yang mengurusi urusan pengurangan risiko bencana dalam dengan melakukan pemeriksaan dan pemantauan daerah rawan bencana serta sosialisasi mitigasi bencana alam geologi.

Bekerja dibidang mitigasi bukanlah suatu hal yang menarik pada awalnya karena tidak ada pekerjaan fisik (proyek) dan kebanyakan orang memandang sebelah mata dalam upaya mitigasi bencana alam. Tapi pada tahun kedua, ada sebuah program kerja sama antara Badan Geologi Indonesai dan Badan Geologi Jerman berupa Georisk Project yang salah satu wilayah kerjanya adalah di pulau Lombok. Saat itu bang kus mendapatkan tugas sebagai representative kantor untuk project itu. Project ini benar-benar membuka wawasan bang kus akan besarnya challenge pekerjaan mitigasi bencana geologi karena Badan Geologi Jerman banyak mendatangkan ahli Geologi dari Jerman untuk memberikan bimbingan mulai dari analisis dan modelling potensi bencana sampai penataan ruang berbasiskan kebencanaan.

Hingga pada tahun 2013 untuk memperkuat lagi pemahaman tentang analisis kebencanaan geologi, bang kus memutuskan untuk mengambil master dalam bidang Geo-information system for disaster risk management yang merupakan double degree program antara UGM dan ITC-Belanda. Disana bang kus lebih memperdalam lagi kemampuan dalam analisis dan modelling potensi bencana alam geologi dalam selama 18 bulan menempuh pendidikan dan lulus pada tahun 2015.

Pengalaman kerja selama 10 tahun dibidang kebencanaan geologi dan pendidikan dibidang analisis dan modelling bencana geologi itulah memberikan keberanian bang kus untuk melakukan analisis-analisis saat ini.

Bukanlah kisah yang wah malah lebih banyak kegagalan yang bang kus alami dan banyak cita-cita yang tidak tercapai tapi hidup adalah proses untuk memperbaiki diri jadi kita nikmati saja setiap kegagalan itu sebagai bagian dari pendewasaan diri dan cari jalan lain apabila satu cita-cita hidup tidak bisa digapai.

Terima kasih telah membaca sepenggal kisah hidup bang kus. Semoga bermanfaat.

(Visited 96 times, 1 visits today)